Sabtu, 13 Maret 2010

Aqidah induk pemikiran


Sebagai makhluk ciptaan Allah swt yang mulia, manusia diilhami akal dan hati. Akal digunakan untuk berfikir, dengan berfikir tersebut manusia mampu menampung dan menyimpan ilmu yang ia dapat dalam kesehariannya. Hati digunakan untuk memeta-metakan, memilah dan memilih apa yang baik untuk kemaslahatannya. Dengan dua hal tersebut manusia mempunyai derajat lebih tinggi daripada makhtuk Allah swt yang lain.

Dengan berfikir manusia mampu menjadi makhluk Allah yang berwawasan luas, dengan semakin bertambahnya ilmu itu diharapkan hati semakin menunduk taat beribadah kepadaNya. Sebagaimana tunduknya padi yang semakin tua umurnya semakin merunduk kebawah karena isinya yang semakin menetas. Bukti dari ketundukan manusia kepada Allah swt adalah mentaati segala perintahnya dan menjauhi segala laranganNya atau lazim disebut taqwa. Ketakwaan seorang hamba dapat di lihat dari seberapa cepat ia memenuhi perintah Allah swt, karena seberapa cepat engkau memenuhi perintah Allah swt secepat itulah Allah swt akan memenuhi hajadmu.

Seruan Allah swt untuk melaksanakan perintahNya terdengar setiap hari, setiap waktu dan setiap tempat. Adzan sholat contohnya, setiap hari kita mendengar adzan akan tetapi sangat disayangkan hanya beberapa orang saja yang bergegas memenuhi panggilan adzan. lantas jangan salahkan Allah swt apabila belum mengabulkan do'amu karena engkau belum memuhi panggilannya.

Begitu pula orang berfikir, setiap ia hendak menjalankan aktifitasnya pasti ia akan berfikir terlebih dahulu, memikirkan apakah pekerjaan yang akan aku lakukan ini mendatangkan kemaslahatan atau kemudaratan, diridhai Allah swt atau justru dimurkainya. Akan tetapi tidak semua orang akan berfikir sedemikian. Manusia diciptakan tidak dalam satu warna, rumpun, bahasa dan agama. Dari perbedaan warna akan menyebabkan manusia berbeda dalam berfikir, begitu pula dalam perbedaan suku, ras, bahasa dan agama. Dalam ajaran agama misalnya, kita percaya bahwa Tuhan itu satu yaitu Allah swt, tapi dalam kepercayaan orang Nasrani menyakini Trinitas -bahwa tuhan itu ada tiga-, dalam kepercayaan orang hindu bahwa tuhan itu ada Dewa Langit, Dewa Bumi dll.

Itu semua adalah pemahaman hasil dari pemikiran yang dilandaskan aqidah yang salah. Apabila aqidah sudah benar maka akan membuat orang berfikir secara benar dan hasilnya akan membawa orang kepada pemahaman yang benar pula. Jadi jangan menganggap remeh perihal aqidah, karena urusan aqidah sangatlah krusial hukumnya. Pembibitan akidah sejak dini harus dipraktekkan, semakin cepat orang mendapat pencerahan akidah semakin baik pula kualitas ibadahnya.

Seberapa banyak amal ibadah kita, seberapa besar infak shadaqah kita, jikalau belum benar akidahnya maka tiada maknanya. Allah swt dengan tegas menegur dan mengancam orang yang sengaja menduakan akidahnya "Innallah ya yaghfiru an yusyraka bihi wa yaghfiru man duunaka liman yasyaa`" Conoh kecilnya, kita rajin beribadah, sering berinfak dan bersedekah, akan tetapi kita masih mempercayai ada penolong selain Allah swt. harta yang kita nafkahkan hasil dari ngepet maka semua itu mardud (ditolak).

So, apa hubungannya antara akidah dan pemikiran? apa sama antara jati diri dan akidah? Bagaimana caranya mencari akidah dari alam semesta? dan masih banyak lagi pertanyaan yang harus kita jawab, semua jawabannya akan kita dapatkan apabila kita mau berfikir secara benar dan berlandaskan akidah yang benar. Semoga Allah swt meneguhkan akidah kita, Amin.




0 comments:

Posting Komentar

 

Suara As-Sabil Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template

backtotop